Jackie Chan, Cinta dan Perdamaian buat Anak

DALAM film-filmnya Jackie Chan tampak gesit, ramah, bahkan jenaka. Ternyata sehari-hari ia memang suka bercanda. Berkali-kali ia mengangkat kedua tangan sambil memonyongkan mulut seperti tengah meniup sesuatu. Orang tertawa karena tahu lantai semen tempat ia menempelkan telapak tangan memang sangat panas, terpanggang sinar matahari. Itulah jejak telapak tangannya yang terekam di lantai "Avenue of Stars" di tepian pantai di Hongkong.

MEMANG cap tangan dan nama "Jackie Chan" sudah lebih dulu tercetak di sana. Kawasan ini yang dirancang mengikuti "Hall of Fame" di Hollywood, Amerika Serikat (AS), pun sudah dibuka untuk umum akhir April 2004. Maka, penampilannya pada hari Minggu (16/5) siang itu lebih untuk konsumsi pers dan televisi. Meski demikian, para juru warta dengan antusias mengambil gambarnya dalam berbagai posisi.

Keramaian ini memancing para penggemar yang berbondong ikut memotretnya. Gaya sang bintang memang memikat. Ia memutar tubuh sambil tetap menempelkan tangan di lantai, lalu bergaya setengah berbaring, berjongkok, nungging, dan seterusnya. Orang pun bersorak-sorai.

"Saya berharap kawasan ini akan menarik banyak orang datang berkunjung," katanya tentang "Avenue of Stars" yang menjadi atraksi baru wisata. Isinya adalah jejak para bintang maupun tokoh film yang telah berjasa untuk industri perfilman Hongkong yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kawasan ini pada malam hari dilengkapi dengan pesta suara dan warna-warni cahaya yang disebut "Simphony of Lights".

Jackie Chan mengaku sering pulang ke Hongkong dan akan terus melakukannya. Alasannya sederhana. "Saya cinta Hongkong. Mengapa? Saya lahir di sini." Ia lahir 7 April 1954 dan mulai bermain film pada usia tujuh tahun. Tambahnya, "Hongkong tak pernah tidur. Anda bisa dapatkan apa saja di sini."

JACKIE dan Hongkong memang sulit dipisahkan. Sosoknya menjadi penghuni Museum Patung Lilin Madame Tussaud yang terletak di atas bukit, dan menempati posisi istimewa. Di sana setiap pengunjung bebas berfoto dengan patung siapa pun, namun untuk Jackie tersedia pemotret khusus.

Pada kenyataannya, Jackie Chan memang istimewa. Ia pernah dianggap sebagai "Bruce Lee baru" pada masa awal karirnya, namun ia kemudian berhasil membuka genre tersendiri. Seperti kata bintang film laga Sylvester Stallone, "Jackie Chan telah meluaskan sebuah genre yang sebelumnya sudah mandek."

Sebagai bintang film kungfu, ia menempatkan sang jagoan menjadi ’manusia’. Di dalam Project A, misalnya, ia kabur dari pandangan musuh. Di dalam Drunken Master II ia buru-buru berhenti berkelahi ketika dipanggil ibunya.

Sisi lain Jackie Chan adalah melakukan sendiri adegan berbahaya. Dalam sejumlah filmnya yang laris, ia menenggak bahan bakar atau berlari di atas batu bara panas. Ia meloncat dari balkon ke sebuah truk yang sedang melaju di dalam Police Story II. Untuk Rumble in the Bronx, ia meloncat ke sebuah hovercraf. Akibatnya ia sering cidera, namun penonton puas karena merasa tidak dikibuli oleh trik kamera maupun rekayasa komputer seperti pada umumnya film laga aktor lain.

Keterampilannya terbentuk lewat latihan di gimnastik Opera Peking. Dua temannya belajar ilmu bela diri, Samo Hung dan Yuen Biao, sering menjadi bintang pendampingnya.

Dari pemain anak-anak, tampil pada sejumlah film kungfu, kemudian melahirkan karya-karyanya sendiri, kini Jackie Chan sepenuhnya menangani film-filmnya. Di samping menjadi pemain utama dan produser, ia sering menyutradarai, bahkan menyanyikan lagu temanya. Sampai tahun 2004 jumlah filmnya sekitar 100 buah.

LEWAT film-filmnya orang mengenalnya sebagai "Si Orang Baik". Apakah ia akan terus begitu?

"Anda tahu banyak anak-anak menganggap saya sebagai idola, karena itu saya sangat berhati-hati," tuturnya di dalam wawancara terbatas hari Minggu itu.

Hal yang terlintas di benaknya ketika merancang sebuah film adalah tentang akibatnya terhadap anak-anak. Itu sebabnya sangat jarang ada darah berceceran pada filmnya. Ia membalut film-film tersebut dengan unsur komedi sehingga kalau toh ada kekerasan di sana tidak menjadi kegiatan yang brutal.

"Saya tahu banyak film yang penuh dengan adegan kekerasan dan banyak darah mengucur di mana-mana. Saya tidak demikian, saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sudah sering saya katakan, inilah ’Jackie Chan’s Way’, inilah cara saya, dengan memadukan aksi dan humor," katanya.

Pertanyaan tentang apakah dalam film-film berikutnya orang yang baik akan menang, membuatnya lebih bersemangat untuk menjawab. Ia mengaitkannya lagi dengan konsumen anak-anak, yang menonton filmnya di berbagai negeri. Katanya, di berbagai daerah, seperti Phuket, Thailand, anak-anak sangat gemar menonton filmnya dan membuntutinya ke mana pun ia pergi. Anak-anak itu, yang ia anggap generasi harapan tempat dunia kelak bergantung, harus mendapat yang terbaik.

"Orang baik dalam film akan mendorong anak-anak untuk melakukan hal-hal baik. Ini sangat penting," tuturnya.

PERHATIANNYA terhadap dunia anak tidak hanya muncul belakangan ini. Ia telah diangkat sebagai goodwill ambassador dari badan PBB yang mengurus masalah anak, Unicef, sekaligus juga badan PBB untuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Jackie Chan mengunjungi berbagai tempat dalam kapasitasnya sebagai wakil PBB tersebut, antara lain ke Kamboja bulan lalu. Di sana ia melihat proyek-proyek penanggulangan HIV/AIDS.

Untuk kepentingan anak-anak pulalah ia memboyong pameran United Buddy Bear dari Jerman, yang dibuka Sabtu 15 Mei lalu di Victoria Park, Hongkong, dan akan berlangsung selama enam minggu. Pameran menyajikan lebih dari 120 patung beruang dalam gaya boneka kesukaan anak-anak yang dilukis para seniman dari berbagai negeri. Ia tertarik oleh pesan pameran itu yang menonjolkan toleransi dan saling pengertian antarbangsa.

"Sebar luaskanlah pesan dari pameran United Buddy Bears ini. Cinta dan perdamaian sangat penting ditumbuhkan sejak masa kanak-kanak," kata Jackie Chan. (EFIX)